Apa Itu Hoax, Sejarah Kemunculannya, Ciri – Ciri, Contoh Hingga Cara Menyikapinya

Arus informasi mengalir deras ke masyarakat setelah adanya internet. Saat ini internet juga semakin mudah didapatkan sehingga siapa saja sudah bisa menemukan berbagai informasi yang dikehendakinya.

Bukan hanya dari media elektronik seperti televisi dan radio, serta portal berita di internet, informasi juga bisa dengan mudah ditemukan di berbagai media soial seperti Facebook, Twitter hingga grup Whatsapp.

Informasi yang beredar di media sosial sesungguhnya tidak bisa kita terima dan percayai 100 persen. Sebab yang menulis bukan jurnalis, dimana jurnalis membuat berita yang bisa dipertanggungjawabkan.

Namun berita yang ada di sosial media tidak akan bisa dipertanggungjawabkan. Jadi jangan percaya sepenuhnya.

Kemudian di sosial media banyak orang menulis opini tentang sesuatu. Opini itu bisa sesat, namun terlanjur dianggap benar oleh para pembacanya. Kemudian itu menjadi kabar palsu atau hoax yang beredar di masyarakat.

Hoax adalah istilah yang mulai populer beberapa tahun belakangan. Namun sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita membahas apa itu hoax serta bagaimana sejarah kemunculannya.

Pengertian Hoax

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks atau hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber. Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Silverman (2015) menyebut hoax adalah sebagai rangkaian informasi yang disesatkan secara sengaja, namun ‘dijual sebagai kebenaran.

Sedangkan Werme (2016) mengatakan hoax adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Dan perlu digarisbawahi bahwa hoax bukan hanya berita yang misleading tapi juga tidak memiliki landasan faktual dan disajikan seolah itu fakta. Biasanya ada data-data yang tidak jelas sumbernya dicantumkan dalam berita.

Sejarah Kemunculan Hoax di Dunia

Berita bohong ternyata sudah ada sejak dahulu kala bahkan sebelum tahun 1600-an.

Pada saat itu informasi disebarkan tanpa komentar. Pembaca boleh menentukan validitas informasi berdasarkan pemahaman, kepercayaan/agama, maupun penemuan ilmiah terbaru saat itu.

Kebanyakan hoax pada era tersebut terbentuk karena spekulasi.

Sebagai contoh adalah saat Benjamin Franklin pada 17 Oktober 1745 mengatakan tentang batuan China yang bisa digunakan untuk mengobati rabies, kanker, dan penyakit mematikan lain.

Namun saat itu verifikasi informasi itu hanya didasari oleh testimoni personal. Satu pekan kemudian, sebuah surat klarifikasi di Gazette mengklaim bahwa batuan tersebut ternyata terbuat dari tanduk rusa dan tidak memiliki kemampuan medis apapun.

Di tahun 1708, Jonathan Swif menggunakan hoax tidak berbahaya berisi prediksi astrologi pada 1 April, yang kini dikenal sebagaiApril Fools’ Day.

Pada 1835, penulis Edgar Allan Poe menerbitkan cerita hoax terkenal; The Unparalled Adventure of One Hans Pfaall tentang pria yang pergi ke bulan menggunakan balon udara dan tinggal di sana selama 5 tahun.

Baru pada awal Abad XIX hoax menjadi semakin berkembang pesat. Seiring dengan itu, jumlah komunitas sains semakin melesat di Amerika Serikat, dan banyak dari mereka yang menerbitkan penemuan hoax yang menggemparkan.

Satu contoh hoax yang terkenal pada masa itu adalah The Great Moon Hoax yang dilansir pada 1835 di The Sun, New York. ReporterThe Sun menduga bahwa peneliti John Herschel menemukan manusia bersayap setinggi 4 kaki di bulan.

Cerita tersebut lama-kelamaan dipercaya publik sebagai sebuah kebenaran. Apalagi, John adalah putra dari peneliti penemu planet Uranus, William Herschel. Setelah hoax itu terbongkar, publik menuntut pemilikThe Sun, Benjamin Day.

Abad XX dan Seterusnya Pada abad ke-XX, berita hoax lebih banyak disebarkan melalui jalur siaran ketimbang media cetak.

Namun, hoax masa kini diklaim lebih menakutkan karena bisa dibuat dengan sangat mudah dan cepat melalui Internet. Pada era digital, jumlah hoax (baik yang disengaja maupun tidak) di bidang politik, sains, ekonomi, sosial, maupun hiburan sudah tidak dapat dihitung.

Jenis Hoax yang Perlu Diwaspadai

Berikut di bawah ini jenis Hoax yang perlu diwaspadai, antara lain sebagai berikut.

1. Hoax Pesan Berantai

Pesan berantai sudah ada sejak zaman masyarakat Indonesia menggunakan SMS, aplikasi BBM dan Whatsapp. Dalam pesan itu biasanya disebutkan orang harus mengirim pesan agar mendapat hadiah, atau akan terkena hal buruk. “Sebarkan, Jangan Berhenti di Kamu”. ITulah kalimat yang biasa digunakan dalam pesan itu.

2. Hoax Urban Legend

Banyak orang yang suka membuat hoax soal cerita urban legend seram tentang tempat, benda, atau kegiatan tertentu. Hoax jenis ini meminta netizen untuk tidak mengunjungi, membeli, atau melakukan hal yang telah disebutkan pembuat hoax tadi.

3. Hoax Virus

Hoax virus biasanya dikembangkan oleh peretas dan melakukan penyebarannya lewat email atau aplikasi chatting. Hoax jenis ini biasanya berisi tentang adanya virus berbahaya di komputer atau smartphone Anda yang sebenarnya tidak terinfeksi.

4. Hoax Kisah Sedih

Hoax satu ini berupa surat yang berisikan tentang kabar dari seseorang yang tengah sakit dan membutuhkan dana guna operasi atau obat. Nah, ini ujungnya akan menjadi penipuan karena si pembuat berita menggalang dana dari berita itu.

5. Hoax dapat Hadiah Gratis

Di sini, memang korban jarang ada yang mengalami kerugian uang, namun mereka tertipu dengan mengisi survei-survei internet untuk iklan.

6. Hoax Pencemaran Nama

Sifat hoax ini sangat berbahaya. Karena dari berita palsu bisa dengan mudah tersebar di dunia maya dan mampu menghancurkan hidup seseorang dalam sekejab.

Contoh Hoax

Contoh hoax yang teranyar adalah adanya chip dalam vaksin Covid-19. Chip itu dikatakan akan ikut masuk lewat jarum suntik saat orang divaksin. Lalu dengan adanya chip itu, manusia bisa dikendalikan dari jauh.

Hoax ini muncul dari teori konspirasi kemunculan Covid-19. teori itu menyebut Covid-19 adalah ciptaan elite global yang ingin menguasai dunia.

Cara Menyikapi Hoax

Berikut di bawah ini cara menyikapi Hoax, antara lain sebagai berikut

1. Hati-hati Judul Click Bait

Judul berita hoax memang sengaja dibuat provokatif dan menggemparkan sehingga orang tertarik membacanya.

2. Cermati Alamat Situs

MElihat itu hoax atau tidak, bisa dengan melihat situsnya. Jika situsnya hanya blog gratisan, maka kemungkinan besar itu hoax.

3. Cek Fakta

Langkah selanjutnya adalah, Anda bisa search google dan mencari berita terkait di portal berita resmi. Sebaiknya Anda jangan mudah cepat percaya apabila informasi yang berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

4. Cek Keaslian Foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat kabar palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

5. Laporkan

Jika Anda menemukan kabar hoax, untuk mencegah agar kabar tersebut tidak tersebar bisa melaporkan kabar hoax tersebut melalui sarana yang tersedia pada masing-masing media. Biasanya di sosial media ada tombol report, Anda tinggal pilih penyebab kenapa Anda mereport konten tersebut.

Bagi pengguna internet Anda dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Dampak Hoax

Hoax memberi dampak buruk bagi kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Berikut adalah dampak hoax bagi masyarakat.

1. Menimbulkan Salah Paham

Berita hoax bisa menyebabkan salah paham, sehingga orang saling benci. Bahkan bisa terjadi bentrok antara masyarakat jika terpancing dengan berita hoax.

2. Tertipu Uang

Berita hoax juga bisa menyebabkan kerugian uang karena penipuan.

3. Pengalihan Isu

Di dunia maya, khususnya bagi para penjahat siber, hoax dapat digunakan untuk memuluskan aksi ilegal mereka. Penjahat siber diketahui sering menyebar hoax soal adanya kerentanan sistem di sebuah layanan internet, misalnya Google Gmail.

4. Penipuan Publik

Selain kehebohan, ada jenis hoax yang dibuat untuk mencari simpati dan uang. Di Indonesia sendiri, kabar hoax yang banyak menipu publik beberapa waktu lalu adalah pesan pembukaan pendaftaran CPNS nasional yang dikirim lewat WhatsApp. Setelah ramai tersebar, barulah pemerintah mengklarifikasi bila pihaknya belum akan membuka pendaftaran CPNS.

Demikian ulasan mengenai hoax, mulai dari pengertian, sejarah kemunculan, dampak, hingga cara menyikapinya. Semoga bermanfaat. (*)