Contoh Resensi Novel

Hai sobat Appnesia! Kali ini akan membahas mengenai resensi novel. Resensi novel adalah sebuah kegiatan memberikan ulasan mengenai sebuah novel dimulai dari menceritakan ulang isi dari novel ataupun memberi penilaian baik dan buruknya sebuah novel.

Tujuan Resensi Novel

Tujuan dari resensi novel diantaranya adalah membuat dan membagi informasi mengenai novel kepada orang-orang yang akan membaca novel tersebut. Kemudian membantu pembaca resensi novel yang mungkin tertarik membaca novel secara utuh untuk berpikir mengenai novel. Selain itu berfungsi untuk memberi pendapat serta saran atas novel yang diresensikan.

Unsur Resensi Novel

Unsur-unsur resensi novel meliputi judul resensi, identitas novel yang terdiri dari judul novel, jenis novel fiksi atau nonfiksi, nama pengarang, penerbit, kemudian tahun terbit, cetakan ke berapa, lalu jumlah halaman, dan ukuran buku. Selanjutnya pendahuluan yang merupakan landasan berpikir dalam meresensi. Kemudian isi resensi yang terdiri atas sinopsis, ulasan, keunggulan, kelemahan peninjawan bahasa dan kesalahan pencetakan novel, unsur instrinsik dan ekstrinsik novel. Terakhir adalah penutup yang mengandung sebuah simpulan.

Contoh Resensi Novel

Setelah memahami pengertian resensi nove, tujuan dan unsurnya, berikut adalah contoh resensi novel yang dapat disajikan:

Resensi Novel Janji Karya Tere Liye – Sebuah Perjalanan

Identitas Buku :

Judul               : Janji

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : PT. Sabakgrip

Tahun Terbit    : 20 Juli 2021

Tebal               : 486 halaman; 20,5 cm

Jenis                : Fiksi, Romance

Sinopsis

Novel Janji karya Tere Liye, mengisahkan tentang perjalanan hidup, tentang 3 murid di sebuah sekolah agama yang kerap selalu mencari cara untuk keluar dari sekolah. Sebuah kutipan kalimat dari Bab 1 “tidak ada yang bertanya-tanya atau membahas soal air teh rebusan. Mungkin di sekolah itu teh memang asin rasanya, gumam mereka saat di atas mobil.”. Ini sebuah kisah dimana ketiga anak itu sedang menjahili tamu buya/pimpinan di pondok dengan menumpahkan garam ke dalam teko air minum yang disuguhkan untuk tamu di atas panggung. Para tamu terkejut namun berkespresi seolah-oleh mereka meminum teh terenak sejagat raya.

Namun ternyata tokoh yang sebenarnya ingin dceritakan bukanlah cerita ketiga bocah nakal itu melainkan hendak menceritakan si Bahar, tokoh yang menjadi siswa nakal 40 tahun yang lalu. 3 anak itu adalah jiplakan Bahar dahulu. Namun karena tindakan 3 anak itu ketahuan oleh Buya, “eh, apakah Buya bisa bicara dengan semut” – “ Buya menghembuskan nafas pelan, memperbaiki sorban. “ Tidak, aku tidak bisa bicara dengan semut, Baso’. Kutipan kalimat di Bab II pada saat Hasan, Baso dan Kahar dipanggil ke ruangan Buya untuk mengakui kesalahan mereka, akhirnya mereka bukannya malah dikeluarkan dari pondok sesuai rencana, tapi mereka malah dihukum untuk mencari Bahar dengan diizinkannya pergi dari sekolah. Walau sebenarnya mereka tidak mengangga pitu adalah sebuah hukuman. Di dalam perjalanan mereka dirumah pikirannya dengan setiap keadaan yang mereka temui.

Ulasan/Resensi

 Tema pada novel ini mengajarkan tentang kehidupan manusia, yang sangat mungkin untuk mendapat pendidikan di luar dari sekolah. Entah itu di mana saja tidak peduli tempat dan waktunya. Setiap hal bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang mencernanya dan mau memikirkannya. Novel ini menyampaikan bahwa setiap orang yang memiliki sisi buruk belum tentu seluruhnya buruk, pasti ada kebaikan di dalamnya karena sejatinya setiap manusia memiliki hati nurani. Begitulah si Bahar, meski pemabuk, namun ia tetap menjaga janjinya untuk tetap membantu sesama dalam keadaan apapun. Bahkan ia rela memakan makanan anjing.

Penokohan, Plot, Gaya Bahasa, Sudut Pandang, Keunikan, Latar

Bahar bukanlah orang yang baik tetapi dia juga orang yang baik, sulit dimengerti namun pada intinya Bahar, dengan apa adanya dirinya dan sikapnya, tetap tiak bisa memutuskan ikatan dia terhadap perbuatan baik kepada manusia lain. Alur dalam kisah novel ini adalah alur maju mundur yang dikemas dengan apik, novel ini juga kerap menggunakan majas-majas seperti “bulan sabit malu-malu keluar dari balik awan” yang artinya bulan yang ditutupi awan sebagian. Kemudian “matahari mulai tumbang dikaki barat” yang maknanya hari sudah mulai malam. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, dimana tokoh utama diceritakan oleh orang lain. Novel ini juga menyajikan kejadian-kejadian unik ketika Bahar di bendung asmara, seorang Bahar yang terkesan garang ciut juga nyalinya jikalau masalah perempuan. Sementara latar kisah novel ini tidak disebutkan secara langsung namun diberitahu melalui penjelasan di dalam kisahnya, seperti “:Rumah panggung terbuat dari kayu, perjalanan berkelok-kelok melangkahi bukit, kampung nenek Bahar berada di lereng bukit barisan” yang kalau diterjemahkan menjadi kawasan pulau Sumatera Barat.    

Keunggulan

Novel ini dikemas dengan luar biasa apik e. Sangat rapih seperti novel Tere Liye yang lain, tidak kalah! Apalagi banyak hal-hal yang saya baru tahu malah, seperti ada semut penyuka gula, lalu ada semut penyuka garam. Sebuah pengetahuan. Kalimat demi kalimat yang disuguhkan sampai kepada pembaca dan terkadang bisa membuat tertawa geli dengan ramuan kalimatnya seperti “waktu itu bulan Ramadhan, malam pertama sahur. Jika murid lain cukup membangunkan penduduk dengan memukul kentungan, atau beduk masjid, Bahar tidak, dia menggunakan meriam bambu.” Kalimat sederhana ini kerap memancing kegelian pada sebagian pembaca namun berhenti seketika saat kisah selanjutnya menceritakan bahwa Bahar menyebabkan kebakaran di pondok dan Syahid menjadi korban. Ekspresi pembaca pasti berubah.

Kelemahan

Mungkin untuk kelemahan, terdapat kekeliruan pada kata di dalam kalimat “Persis  jadwal juri kunci menutup pintu, mereka tidak kembali ke sel, bersembunyi di kamar mandi” dimana juri kunci harusnya adalah juru kunci.

“Ada ratusan murd ayah yang melanjutkan dan lulus dari sekolah luar negeri, menjadi ulama terkenal, atau ilmuan terkemukan” dimana ilmuan terkemukan harusnya adalah ilmuan terkemuka.

“Kemana kita sekarang? Kaharuddin bertanya sambal melemaskan badan” dimana sambal melemaskan badan seharusnya menjadi  sambil melemaskan badan.

Amanat

Kisah novel ini memiliki makna bahwa sejatinya kebaikanlah yang akan menjadi hadiah yang bernilai hingga saat-saat terakhir manusia di penghujung usia. Menjadi bekal dan menjadi kenangan baik yang dapat diingat oleh manusia lain.

Nah, itu adalah informasi mengenai pengertian resensi novel, tujuan, unsur hingga contoh resensi novel. Semoga artikel ini membantu kamu ya, khususnya kamu yang sedang mencari referensi mengenai resensi novel! Terima kasih telah membaca!